Setelah mendapakan buku catatan amal dan diperhitungkan setiap amalnya, maka perjalanan abadi memasuki babak baru. Semua amalan telah dibuka dan dipertanggung jawabkan. Kini saatnya ditentukan melalui mizan (timbangan amal).
Situasi penimbangan ini kalah dahsyatnya dengan situasi di padang Mahsyar, sungguh sangat mencekam dan menghawatirkan, sampai-sampai orang tidak akan memikirkan orang lain bahkan orang yang sangat dicintainya sekalipun.
Suatu ketika Rasulullah ï·º menyandarkan kepalanya di pangkuan Aisyah. Tiba-tiba Aisyah mengingat akhirat lalu menangis, air matanya menetes dan jatuh di pipi Rasulullah. Rasulullah bertanya "Apa yang membuatmu menangis wahai Aisyah?"
Aisyah berkata "Aku memikirkan akhirat, apakah di hari kiamat kelak engkau masih ingat keluargamu wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab "Sungguh ada tiga tempat di hari kiamat dimana setiap orang tidak akan memikirkan apapun kecuali dirinya sendiri. Ketika timbangan amal di pancangkan lalu amalnya ditimbang, hingga diketahuinya apakah timbangannya berat atau ringan. Ketika buku catatan dibagikan hingga diketahuinya apakah jatuh di kiri kananya. Dan ketika menuju sirath" (HR. Abu Dawud)
Amal demi amal telah dihadirkan dan dipertanggung jawabkan. Allah Maha Pemurah, Dia mengetahui bahwa manusia terdiri darah, daging serta dari jiwa, akal serta nafsu.
Allah juga mengetahui bahwa setan yang selalu merayu dan menggangu manusia, karena itu Allah Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ وتعالى masih menoleransi orang-orang yang melakukan dosa selama beban dosanya tidak lebih berat dari beban kebaikannya.
Maka Allah memancangkan timbangan. Timbangan itu memiliki dua panci dan lidah, masing-masing panci seluas langit dan bumi. Ibnu Abbas berkata kebaikan dan keburukan akan ditimbang dengan timbangan yang memiliki lidah dan dua panci. Panci kebaikan terbuat dari cahaya dan panci keburukan berupa kegelapan.
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa surga diletakan disamping kanan Arsy dan neraka disamping kiri arsy. Kemudian didatangkan lalu dipancangkan dihadapn Allah Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ وتعالى.
Panci kebaikan disebelah kanan arsy berhadapan dengan surga, dan panci keburukan disebelah kiri Arsy berhadapan dengan neraka. Timbangan yang dipancangkan Allah swt bukanlah sembarang timbangan, ukurannya sangat besar, seandainya bumi dan langit diletakan di dalamnya maka akan muat.
Salman Al-Farizi ra menuturkan pada hari kiamat timbangan akan pancangkan, sendainya langit-langit dan bumi diletakan di dalamnya maka akan termuat.
Melihat itu para Malaikat berkata "Tuhan kami benda apakah ini?"
Allah berfirman "Aku akan menggunakannya untuk menimbang amalan-amalan hamba-hambaku yang Aku kehendaki"
Para Malaikat berkata lagi "Tuhan kami, jika demikian maka kami belum menyembah-Mu sebagaimana mestinya"
Setelah timbangan itu dipancangkan maka masing-masing manusia akan didatangkan hingga berdiri di depan dua panci timbangan, lalu ada Malaikat yang ditugaskan untuk menimbang amalnya.
Timbangan yang dipancangkan untuk menimbang amal manusia benar-benar sangat tepat dan sangat akurat sehingga seseorang di hari itu tidak akan dirugikan sedikitpun. Sekecil apapun amal baik atau amal buruk seseorang, niscaya tidak akan luput dari timbangan itu.
Timbangan itu memiliki standar ukuran dzarrah atau biji terkecil sehingga memiliki kepekaan yang sangat tinggi. Dengan timbangan itu akan terlihat nyata setiap kebaikan dan kejahatan yang pernah dilakukan selama hidup di dunia.
Ada kebajikan yang sangat kecil akan tetapi ketika ditimbang mempunyai daya berat dan nilai yang sangat besar sekali, begitu juga kebalikannya satu kebajikan yang kita rasa sangat besar boleh jadi nanti mempunyai daya berat dan nilai yang kecil sekali, begitu juga dengan kejelekan atau kejahatan.
Seseorang yang bersedekah sekilo beras pada saat harga beras membumbung tinggi kepada seorang yang tak berdaya mempunyai nilai yang sangat besar sekali. Disebutkan dalam hadits shahih bahwa seorang laki-laki diampuni dosanya karena suatu ketika melakukan kebajikan yang sangat ringan yaitu memberi minum anjing yang mati kehausan pada saat panas terik.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Barang siapa memenuhi suatu kebutuhan bagi saudaranya maka aku akan berdiri di samping timbangannya, jika sisi kebaikannya lebih ringan maka akan aku berikannya safaat"
"Barang siapa memenuhi suatu kebutuhan bagi saudaranya maka aku akan berdiri di samping timbangannya, jika sisi kebaikannya lebih ringan maka akan aku berikannya safaat"
Lain halnya dengan orang yang tertimpa musibah, sungguh Allah memberikan kemulian tersendiri kelak di hari timbangan amal. Di saat kekhawatiran dan ketakutan menyelimuti seseorang saat ditimbang amalnya, orang tersebut dikejutkan dengan fakta yang tidak diperhitungkan sebelumnya.
Ternyata musibah yang dialami seseorang justru meringankan timbang di akhirat.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Timbangan-timbangan akan dipancangkan pada hari kiamat, lalu para ahli shalat didatangkan dan dipenuhi pahalanya sesuai timbangannya, para ahli puasa juga didatangkan maka merekapun dipenuhi pahalanya sesuai timbangannya.
"Timbangan-timbangan akan dipancangkan pada hari kiamat, lalu para ahli shalat didatangkan dan dipenuhi pahalanya sesuai timbangannya, para ahli puasa juga didatangkan maka merekapun dipenuhi pahalanya sesuai timbangannya.
Kemudian didatangkan para ahli sedekah maka merekapun dipenuhi pahalanya sesuai timbangannya, lalu didatangkan para ahli haji maka merekapun dipenuhi pahalanya sesuai timbangannya, lalu didatangkan orang-orang yang biasa tertimpa musibah maka timbangan tidak dipancangkan untuknya.
Buku catatan juga tidak dibuka dihadapannya, sebaliknya pahala akan di tuangkan ke atasnya tanpa hitungan.
Husein bin Ali ra pernah bertutur, kakekku Rasulullah ï·º pernah berkata kepadaku "Anakku kamu harus qanaah agar menjadi orang yang paling kaya dan kerjakanlah amalan-amalan fardhu niscaya kamu akan menjadi orang yang paling beribadah. Anakku di surga ada sebuah pohon yang bernama pohon balwa, nanti pada saat hari kiamat orang-orang yang biasa tetimpa bala akan didatangkan dan timbangan tidak akan dipancangkan untuk mereka, tidak pula dibukakan buku catatan amal sebaliknya pahala akan dituangkan kepadanya"
Rasulullah ï·º kemudian membaca, hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.
Abu Umar menyebutkan tentang maksud firman Allah Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ وتعالى dan Kami letakkan timbangan keadilan pada hari kiamat, bahwasannya amal seorang laki-laki akan didatangkan dan diletakan dalam panci timbangan pada hari kiamat. Maka didatangkan sesuatu menyerupai awan mendung, kemudian diletakan timbangannya, maka panci kebaikannya berubah menjadi berat, dikatakan kepada orang itu
"Tahukah kamu apa itu?"
Dia menjawab "Tidak"
Dikatakan lagi "Itu adalah ilmu yang dulu kamu ajarkan kepada manusia"
Penimbangan amal benar-benar akan terjadi, tetapi tidak semua orang amalannya akan ditimbang, orang-orang yang masuk surga tanpa hisab maka amalnya tidak akan di timbang, juga orang-orang kafir yang tidak memiliki kebaikan sama sekali, menurut pendapat mereka langsung dimasukan ke dalam neraka. Adapun orang-orang selain mereka maka akan ditimbang amalnya.
Orang-orang bertaqwa mereka tidak pernah melakukan dosa besar, bebagai kebaikan mereka diletakan disisi penimbang amal yang bercahaya, sedangkan dosa-dosa kecil merekapun (jika ada) diletakan disisi penimbang yang satu lagi.
Allah tidak menjadikan dosa-dosa kecil itu menjadi berat karena Dia telah menghapusnya. Sisi penimbang amal cahayapun turun ke bawah karena kebaikan ada padanya, sisi peningbang cahaya ini turun hingga menyentuh tanah, sedangkan sisi penimbang amal yang satunya lagi naik ke atas dan berada pada bagian puncak.
Rasulullah berjanji bahwa dosa-dosa kecil akan diampuni jika dosa-dosa besar dijauhi. Oleh karena itu pada hari kiamat dosa-dosa kecil orang-orang dalam kelompok pertama ini tidak memiliki bobot.
Barang siapa bobot amal baiknya lebih berat walaupun bedanya hanya sebesar dzarrah dia masuk surga, sebaliknya barang siapa yang bobot buruknya lebih berat walau hanya sekecil dzarrah dia masuk neraka, jika timbangan bobotnya sama berat Allah akan mengampuninya.
Orang-orang dengan bobot timbangan seperti ini ada diantara surga dan neraka, ini jika dosa-dosa besarnya hanya antara seseorang dengan Allah sedangkan jika seseorang memiliki tanggung jawab atau beban yang harus dipikulnya lain lagi urusannya.
Misalnya seorang memiliki kebaikan yang banyak, pahala kebaikan orang itu dapat berkurang sesuai dengan besar pahalanya saat bagi perbuatan burukannya, hal ini nisa terjadi karena tanggung jawab atau beban yang harus dipikulnya juga banyak sehingga dia harus memikul dosa-dosa orang yang di dzaliminya, kemudian orang itu disiksa.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu? Mereka menjawab orang yang bangkrut dikalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta barang."
"Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu? Mereka menjawab orang yang bangkrut dikalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta barang."
Rasulullah ï·º bersabda:
"Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun juga datang dengan membawa dosa kedzaliman, ia pernah mencerna si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang itu maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut diberikanlah kebaikannya, hingga apabila kebaikannya habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzaliman tertebus, diambilah kejelekan kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpahkan lalu ditimpahkan kepadanya. Kemudian ia dicampakkan kedalam neraka." (HR. Muslim)
"Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun juga datang dengan membawa dosa kedzaliman, ia pernah mencerna si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang itu maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut diberikanlah kebaikannya, hingga apabila kebaikannya habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzaliman tertebus, diambilah kejelekan kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpahkan lalu ditimpahkan kepadanya. Kemudian ia dicampakkan kedalam neraka." (HR. Muslim)
Allah Maha Kaya dan Maha Pemurah sedangkan manusia adalah fakir dan miskin, pada hari itu mereka sangat membutukan nilai kebaikan meskipun hanya satu sehingga dapat menghapus nilai satu keburukan. Dengan demikian timbagan kebaikannya makin berat.
Dosa-dosa kecil orang bertaqwa dapat dihapuskan oleh upaya mereka menjauhi dosa-dosa besar, mereka diperintah oleh Allah untuk masuk surga, setiap orang diantara mereka memperoleh ganjaran sesuai dengan keataan dan kebaikan yang telah dilakukannya.
Amal orang-orang yang bertaqwa ditimbang untuk menunjukan keutamaan mereka, amal-amal perbuatan orang-orang bertaqwa ditimbang untuk menguji keadaan mereka karena tidak ada satu keburukan yang mereka miliki. Sedangkan orang-orang yang amal perbuatannya bercampur antara buruk dan baik, jika masuk neraka mereka dapat dikeluarkan dengan safaat.
Rasulullah ï·º menceritakan tentang seorang yang telah melakukan banyak dosa ketika di dunia, ia punya catatan dosa sebanyak 99 kartu, setiap catatan amal tersebut jika dibentangkan sejauh mata memandang namun ia punya kartu ampuh yaitu kartu la ilaha illallah sehingga ia bisa selamat dari siksa.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu, setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang kemudian Allah menanyakan kepadanya "Apakah engkau mengingkari sedikitpun dari catatanmu ini?" ia menjawab "Tidak sama sekali wahai Rabb ku" Allah bertanya lagi "Apakah yang mencatat hal ini berbuat dzalim padamu?" lalu ditanyakan pula "Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?" dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata "Tidak"
"Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu, setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang kemudian Allah menanyakan kepadanya "Apakah engkau mengingkari sedikitpun dari catatanmu ini?" ia menjawab "Tidak sama sekali wahai Rabb ku" Allah bertanya lagi "Apakah yang mencatat hal ini berbuat dzalim padamu?" lalu ditanyakan pula "Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?" dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata "Tidak"
Allah Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ وتعالى berfirman:
"Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih Kami cakap dan sungguh tidak akan ada kedzaliman atasmu hari ini" lantas dikeluarkannya satu biqaqah (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat la ilaha illallah muhammadan abduhu warosuluh.
"Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih Kami cakap dan sungguh tidak akan ada kedzaliman atasmu hari ini" lantas dikeluarkannya satu biqaqah (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat la ilaha illallah muhammadan abduhu warosuluh.
Lalu ia bertanya "Apakah kartu ini yang bersama dengan catatanku yang penuh dosa tadi?"
Allah berkata padanya "Sesungguhnya engkau tidaklah dzalim" lantas diletakan kartu-kartu dosa di salah satu dalam timbangan dan kartu ampuh la ilaha illallah di dalam timbangan lainnya.
Ternyata timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan berat kartu ampuh la ilaha illallah itu (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Ahmad)
Secara umum seluruh amalan yang baik dengan berbagai jenisnya baik amalan hati maupun anggota badan baik ucapan hati maupun lisan akan memenuhi dan mengisi timbangan. Terlebih lagi jika Allah dengan rahmat dan keutamaanya melipat gandakan amalan-amalan seorang hamba yang ia kehendaki.
Adapun amalan kebaikan yag dinyatakan oleh Rasulullah secara tegas dan jelas akan memenuhi dan memberatkan timbangan, diantaranya adalah ucapan dua kalimat syahadat yang benar dan ikhlas dari hatinya, akhlak yang baik sebagaimana contoh Rasulullah saw
"Sesungguhnya sesuatu yang paling berat yang akan diletakan di dalam timbangan amalan-amalan seorang hamba pada hari kiamat adalah akhlak yang baik dan sesungguhnya Allah membenci orang yang keji dan jelek ucapannya" (HR. Abu Dawud & Ahmad)
Demikian pula berdzikir kepada Allah seperti tahmid dan taslim.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Dua kalimat yang dicintai oleh Ar-Rahman ringan di lisan berat di nisan subhanallah wabihamdihi subhanallah hiladzim" (Muttafaqun alaih)
Rasulullah ï·º bersabda:
"Dua kalimat yang dicintai oleh Ar-Rahman ringan di lisan berat di nisan subhanallah wabihamdihi subhanallah hiladzim" (Muttafaqun alaih)
Rasulullah ï·º bersabda:
"Bersuci itu setengah dari iman, ucapan alhamdulillah itu memenuhi nisan" (HR. Muslim)
"Bersuci itu setengah dari iman, ucapan alhamdulillah itu memenuhi nisan" (HR. Muslim)

0 Comments