Rasulullah ﷺ tidak pernah sakit seumur hidupnya kecuali penyakit demam atau sakit panas dalam badannya. Maka pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang sakit panas dan tubuhnya semakin melemah.
Rasulullah ﷺ dipandu oleh saidina Ali dengan saidina Fadhl bin Abbas. Rasulullah datang ke masjid yang saat itu saidina Abu Bakar menjadi imam. Kemudian saat Nabi Muhammad datang saidina Abu Bakar mundur ke belakang.
Setelah melakukan shalat Nabi Muhammad berdiri kemudian berkhutbah. Rasulullah ﷺ di depan seluruh sahabat-sahabatnya mengatakan "Bahwa kalian akan selamat ketika kalian berpegang kepada dua hal yaitu Al-Qur'an dan Hadist. Barang siapa yang mencintai Al-Qur'an dan Hadist maka ia akan selamat dan masuk ke surganya Allah سبحانه وتعالى.
Siapa yang mengikuti Hadist, siapa yang mengikuti sunnahku berarti dia mencintaiku. Siapa yang mencintaiku berarti dia akan bersama-sama denganku di surganya Allah."
Saidina Abu Bakar as Sidiq menangis di saat mendengar berita itu. Di kiri kanan saidina Abu Bakarpun ikut menangis sehingga setelah itu semua menangis bahwasannya itu khutbah terakhirnya Rasulullah. Rasulullah akan dipanggil oleh Allah سبحانه وتعالى.
Dan setelah itu Rasulullah melanjutkan khutbahnya dan berkata "Siapapun diantara kalian yang pernah aku sakiti, apapun aku ambil hatinya, apapun aku dzalimi kalau ingin mengqishas menuntut sekarang saatnya sebelum aku menghadap Allah. Aku tidak ingin menghadap Allah dengan kedzaliman.
Siapapun yang pernah aku sakiti, silahkan sekaranglah waktunya untuk menuntut." Berdiam Nabi Muhammad. Rupanya para sahabat Nabi tidak ada yang menjawab sepatah katapun. Lalu Nabi Muhammad ingin melanjutkan ceramah beliau.
Disaat Nabi Muhammad ingin melanjutkan ceramah beliau, tiba-tiba dibelakang ada yang berdiri "Ya Rasulullah aku yang akan mengambil qishas atasmu ya Rasulullah, aku yang akan menuntut ya Rasulullah."
Para sahabat Nabi yang semula menangis terhenti tangisnya mendengar suara tersebut. Kemudian Nabi Muhammad berkata "Majulah engkau" mendekatlah orang tersebut.
Setelah orang itu mendekat, para sahabat Nabi semua mengenalnya dan Rasulullahpun mengenal orang ini. Orang ini adalah orang cerdas yang saat itu ditanya oleh Rasulullah "engkau minta apa?"
Dia menjawab "Ya Allah doakan aku agar aku mati tidak pakai hisab, langsung masuk surga"
Dan itulah Ukasyah, Ukasyah yang didoakan Nabi Muhammad menjadi ahli surga tanpa hisab. Dia berkata "Aku akan tuntut ya Rasulullah" kemudian dekatlah Ukasyah. Saidina Ali yang ada di kanan Nabi, saidina Fadhl bin Abbas yang ada di kiri Nabi tidak terima "Ya Rasulullah biar aku yang tanggung, apa yang akan dia lakukan untukmu aku tidak rela. Biar aku yang disakiti ya Rasulullah"
Saidina Fadhl bin Abbas berkata "Biar aku disakiti ya Rasulullah jangan engkau ya Rasulullah"
Nabi Muhammad menjawab "Tidak, itu urusanku dengan dia, ini urusanku dengan Ukasyah. Ukasyah apa? Apa yang engkau tuntut atasku wahai Ukasyah?"
Ukasyah berkata "Ya Rasulullah, engkau masih ingat waktu berada di perang badar. Saat engkau meluruskan barisan perang engkau telah memukulku dengan tongkatmu dan ketahuilah pinggangku sakit sekali ya Rasulullah. Dan sampai hari inipun masih aku rasakan sakitnya, aku akan balas atasmu ya Rasulullah"
Nabi Muhammad berkata "Baik Ukasyah, balaslah kalau ingin membalas"
Ukasyah menjawab "Ya Rasulullah waktu engkau memukulku aku tidak memakai baju, sekarang engkau memakai baju buka bajumu ya Rasulullah"
Akhirnya dibukalah baju Rasulullah ﷺ "Ya Rasulullah engkau dulu memukul dengan tongkat, aku tidak punya tongkat"
Diambil diberikannya tongkat Rasulullah "Pukullah aku dengan tongkatku"
Akhirnya Ukasyah memegang tongkat tersebut. Dan digoyang-goyangkan tongkat tersebut sekali, dua kali digoyangkan tongkat tersebut dan ternyata setelah itu tongkat dibuang dan dipeluklah Rasulullah ﷺ.
Kemudian Rasulullah berkata "Ukasyah apa yang engkau lakukan ini?"
"Ya Rasulullah aku merasa bahwasanya ini akhir-akhir kehidupanmu ya Rasulullah, sungguh ya Rasulullah aku ingin sentuhkan kulitku disaat kau masih hidup ya Rasulullah"
Rasulullah dalam keadaan yang sangat lemah kembali dipandu oleh saidina Ali bin Abi Thalib dan Fadhl bin Abbas untuk kembali ke rumahnya. Pada saat itu matahari sudah mulai meninggi. Pintu Rasulullah ﷺ dikunci dan di dalam Rasulullah ﷺ sudah terbaring dipangkuannya Aisyah.
Ketika itu ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Rasulullah dan Fatimah membuka pintu tersebut dan sang laki-laki tersebut berkata kepada Fatimah "Aku ingin bertemu dengan ayahmu"
Kata Fatimah "Tidak bisa wahai pemuda ayahku sedang sakit."
Fatimah lalu menutup pintu tersebut dan kembali kepada sang ayah. Kata Rasulullah ﷺ sambil menatap wajah Fatimah seakan-akan wajah itu ingin dikenangnya seumur hidupnya mengatakan "Wahai Fatimah sesungguhnya yang datang adalah Malaikat maut, Malaikat maut hendak mengambil nyawaku pada hari ini"
Fatimah sudah tidak tahan lagi dan tersedu-sedu dalam tangisannya lalu Malaikat maut itu masuk ke dalam rumah Rasulullah ﷺ. Dalam keadaan lemah Rasulullah ﷺ bertanya kepada Malaikat maut "Dimana Malaikat Jibril, aku tidak pernah melihat Malaikat Jibril selama ini, dimana dia kenapa tidak hadir pada hari ini"
Malaikat Jibril akhirnya datang menemui Rasulullah ﷺ dan dalam keadaan berbaring yang lemah Rasul berkata "Wahai Malaikat Jibril tolong beritahu kepadaku apa hakku, apa yang aku dapatkan?"
Kata Malaikat Jibril "Wahai kekasih Allah ketahuilah bahwa seluruh Malaikat telah menunggumu dipintu-pintu langit wahai Rasul. Ketahuilah bahwa pintu-pintu surga telah dibukakan untukmu wahai Rasul"
"Lalu bagaimana dengan umatku, ketika aku pergi bagaimana dengan umatku" kata Rasul.
Kemudian Malaikat Jibril mengatakan "Siapa yang mencintaimu, siapa yang mengikuti sunnahmu akan bersamamu disurga Allah سبحانه وتعالى wahai Rasulullah"
Kemudan Malaikat Izrail mulai mencabut nyawa Rasulullah perlahan-lahan, dari kakinya perlahan-lahan ditariknya. Kemudian Rasulullah ﷺ mengatakan "Wahai Malaikat maut, dahsyatnya sakatul maut ini, sakit sekali sakatul maut ini, kalau aku tahu rasa sakitnya seperti ini tolong timpakan seluruh rasa sakit sakatul maut seluruh umatku kepadaku wahai Malaikat maut. Aku tidak ingin mereka merasakan sakit yang amat dahsyat seperti ini."
Ketika dalam keadaan seperti itu Malaikat Jibril memalingkan mukanya dan Rasulullah saw berkata kepada Malaikat Jibril "Malaikat Jibril apakah engkau tidak mau melihatku, jijikkah engkau melihatku sampai engkau memalingkan wajahmu tidak mau menghadapku?"
"Wahai kekasih Allah tidak ada orang yang mampu melihat wajah kekasih Allah dalam keadaan sakit seperti ini. Tidak akan ada orang yang rela melihat wajah kekasih Allah dalam keadaan yang hendak mati seperti ini. Aku tidak sanggup untuk melihatmu wahai Rasul"
Maka Rasulullah ﷺ dengan keadaan yang sangat lemah, yang sangat letih mulai memanggil saidina Ali dan berbisik kepada saidina Ali "Tolong sampaikan kepada seluruh umatku periharalah solat dan periharalah orang-orang miskin"
Dalam keadaan mulai satu persatu napas Rasulullah ﷺ tersengal-sengal dan seluruh orang sudah mulai menangis. Rasulullah ﷺ berbisik dengan lemah "Ummati ummati ummati ummati ummati." Rasulullah saw memikirkan keadaan kita, keadaan umatnya sepeninggalan Rasulullah ﷺ. Apakah taat kepada Allah atau maksiat kepada Allah سبحانه وتعالى.
Maka didetik-detik kematian Rasulullah ﷺ, Rasulullah menaikkan satu telunjuknya kemudian mengucapkan La-ilaha illallah. Dan pada saat itu juga terpejamlah matanya dipangkuan Aisyah.
Seluruh orang menangis dan kemudian kabar kematiannya Rasulullah saw mulai tersebar di seluruh penduduk Madinah. Dan semua orang menangis tersedu-sedu, tersayat hati mereka karena kepeninggalan Rasulullah ﷺ.
Umar bin Khattab yang mendengar ini pun mulai mengambil pedangnya dan mengacungkan pedangnya dengan perasaan marah ia mengatakan "Siapapun yang mengatakan Rasulullah mati akan aku penggal lehernya, siapapun yang mengatakan Rasulullah wafat akan aku bunuh dia. Rasulullah tidak wafat, Rasulullah hanya kembali bertemu dengan Allah setelah itu kembali lagi bertemu dengan kita. Rasulullah hanya seperti Nabi Musa saja yang bertemu dengan Allah setelah itu kembali lagi kepada umatnya. Jangan sekali-kali lagi kalian mengatakan Rasulullah mati"
Begitu kata Umar, Umar begitu terpukul dengan kematian Rasulullah ﷺ sampai saidina Abu Bakar menenangkan Umar dan mengatakan "Wahai Umar, tidak begitu Umar. Kalau engkau menyembah Rasulullah ﷺ ketahuilah bahwa dia adalah seorang manusia biasa yang akhirnya kembali kepada Allah سبحانه وتعالى. Tapi ketika engkau menyembah Allah سبحانه وتعالى, Allah itu maha abadi, Allah itu tidak akan mati maka sembahlah Allah سبحانه وتعالى."
Berakhirlah sudah riwayat hidup seorang manusia yang kemuliaanya tak ada yang menandingi. Seorang manusia pilihan yang telah memberi sinar cahaya terang dan membawa kita terbebas dari kegelapan.
Sosok yang begitu cinta kepada umatnya. Di saat ajalpun Rasulullah tidak memikirkan anaknya, istrinya atau yang lainnya. Dalam hatinya Rasulullah begitu gelisah memikirkan umatnya.

0 Comments