Kisah Malaikat Jibril dan Tugasnya Pasca Kenabian dan Kerasulan





Kisah Malaikat Jibril 

1. Kaum Luth

"Apakah perjalananku telah separuhnya ataukah baru dua per tiga atau bahkan separuhnya?"

Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman "Hai Jibril walaupun kamu mampu terbang 300 ribu tahun dengan sayap-sayapmu yang sudah ada dan Aku tambah lagi 600 sayap, niscaya tidak akan bisa mencapainya karena surga ma'wa akan Aku berikan kepada umat Muhammad sebagai sebuah hadiah istimewa dari-Ku, karena mereka mau mengerjakan shalat"

Ratusan atau mungkin ribuan abad yang lalu Jibril bersama Mikail dan Israfil pernah datang kepada kekasih Allah سبحانه وتعالى yaitu Nabi Ibrahim as. Ketiganya datang memberikan kabar gembira kepada Ibrahim dan Sarah akan kehadiran buah hati mereka.
 
Dan setelah memberi kabar baik itu kepada Nabi Ibrahim kemudian mereka bertiga pergi untuk menemui Nabi Luth. Jibril pernah mencongkel bumi seluas lima desa kemudian mengangkatnya ke langit dan membalikkannya hanya dengan satu sayapnya.

Jibril mengazab kaum Nabi Luth karena perbuatan mereka sudah sangat menyimpang dimana praktek homoseksual ketika itu sudah lumrah terjadi. Kebanyakan kaum Luth adalah sebagai kaum pendosa. Mereka telah menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan Nabinya, berbuat kotor dengan perbuatan homoseksual yang belum pernah dilakukan oleh orang sebelum mereka dan senantiasa menantang datangnya azab.

Kisah azab yang menimpa kaum Luth bermula dengan datangnya Malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil dengan sosok laki-laki tampan dan gagah. Mereka datang menemui Nabi Luth. Tiga tamu yang rupawan itu membuat Luth merasa cemas, khawatir kalau kaumnya akan mengganggu mereka. Sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) itu datang kepada Lut, dia merasa curiga dan dadanya merasa sempit karena (kedatangan)nya. Dia (Lut) berkata, "Ini hari yang sangat sulit." (QS. Hud: 77)

Kejadian ini yang tadinya di sembunyikan oleh Nabi Luth karena istri Nabi Luth khianat maka kehadiran tamupun bocor ke telinga kaum Nabi Luth yang gemar melakukan praktek homo seksual. Kemudian Nabi Luth semakin gelisah. Beliau sangat memuliakan tamu dan tidak ingin tamu istimewanya terganggu dan tersakiti. Sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Qur'an.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Dia (Lut) berkata, "Sekiranya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau aku dapat berlindung kepada Allah Yang Maha Kuat (tentu aku lakukan). Mereka (para malaikat) berkata, "Wahai Lut! Sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah bersama keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia (juga) akan ditimpa (siksaan) yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka itu pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?" (QS. Hud: 80-81)

Syahwat kaum Nabi Luth makin membuncah liar tak terbendung, malam itu mereka mencoba mendobrak pintu rumah Nabi Luth, lalu Jibril memukul wajah mereka dengan ujung sayapnya hingga mereka menjadi buta.

Kemudian Jibril memerintahkan Luth dan umatnya yang beriman untuk ke luar dari rumahnya dan datanglah azab yang pedih kepada kaum Nabi Luth yang durhaka.

Di pagi hari Jibril mencongkel bumi kampung Luth dengan satu sayapnya, kemudian bumi itu diangkat ke langit pertama dengan segala isinya hingga penduduk langit mendengar jeritan manusia, lengkingan berbagai suara baik itu manusia atau hewan sangat terdengar jelas oleh penduduk langit.

Setelah itu Jibril membalikkan bukit itu, kemudian dilemparkan lagi ke bumi dengan diikuti hujan batu dari Sijjil. Imam Qatadah mengatakan telah sampai kepada kami bahwa Jibril mengangkat bagian tengah desa, kemudian ia lemparkan ke langit, hingga penduduk langit mendengar berbagai jeritan dari manusia dan hewan.

Muhammad bin Kaab al Farozi mengatakan bahwa kampung Nabi Luth itu ada lima kampung, diantaranya kampung Sadom, ini adalah kampung terbesar yang dihancurkan oleh Malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil, kampung Sabah, Sa'wa, Astra, danDuma.

Allah Al-Aziz yang Maha Perkasa sangat mudah menurunkan azab kepada manusia yang berbuat dzalim.

2. Perang Badar

Malikat Jibril dengan perintah Allah سبحانه وتعالى memegang peranan penting dalam peristiwa perang Badar yang melibatkan kaum muslimin dan kaum kafir qurais. Bahkan Jibril boleh disebut sebagai panglima Badar karena waktu itu musuh kocar kacir lari tunggang langgang.

Sejarah mencatat bahwa peristiwa perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan dua tahun setelah hijrah. Perang ini merupakan perang yang tidak seimbang karena pada waktu itu jumlah kaum muslimin lebih kecil jika dibandingkan dengan kaum kafir qurais. Dari pihak kaum muslimin berjumlah kurang lebih 310 orang, sedangkan dari pihak kafir qurais berjumlah kurang lebih 1010 orang.

Jika dilihat dari segi jumlah dan peralatan perang maka pasukan kaum muslimin jauh dari kata seimbang jika dibandingkan dengan kaum kafir qurais.

Kemudian Rasulullah ﷺ memohon dan berdoa kepada Allah سبحانه وتعالى. Dalam hadist riwayat Ahmad diceritakan. Setelah Rasulullah melihat kekuatan musuh, maka Rasulullah memohon pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى sambil menghadapkan dirinya ke arah kiblat sambil berdoa.

"Ya Allah, tunaikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan. Ya Allah, jika golongan kaum muslimin ini binasa maka tidak akan ada orang yang menyembah-Mu di muka bumi ini untuk selamanya."

Rasulullah ﷺ terus menerus memohon pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى dan berdoa, sehingga diceritakan dalam sebuah riwayat sampai kain selendangnya yang bewarna putih itu terlepas dari pundaknya. Kemudian Abu Bakar datang menghampirinya dan memungut kain selendangnya, terus diletakkan lagi ke pundaknya, dan Abu Bakar tetap berdiri dibelakangnya sampai berkata

"Wahai Nabi Allah cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu karena sesungguhnya dia pasti menunaikan apa yang telah sampai janjikan kepadamu"

Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirimkan 1000 pasukan Malaikat yang dipimpin langsung oleh Malaikat Jibril. Bahkan para ulama sepakat menyebut Malaikat Jibril sebagai panglima perang Badar karena peranan Malaikat Jibrillah umat Islam berada dalam kemenangan.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari disebutkan ketika Rasulullah ﷺ berbicara kepada Abu Bakar "Berbahagilah wahai Abu Bakar, ini adalah Jibril sedang memegang kepala kudanya dan ia membawa peralatan perang"

Dan dipertegas lagi dengan turunnya sebuah ayat yang ada dalam Al-Qur'an yang menceritakan bahwa Allah سبحانه وتعالى mengirimkan 1000 pasukan Malaikat yang dipimpin langsung oleh Jibril sebagai panglimanya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, "Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (QS. Al-Anfal: 9)

Dan akhirnya pasukan muslimin berada dalam kemenangan. Dimana 70 orang tentara kafir qurais berhasil dibunuh dan 70 orang berhasil ditawan sementara sisanya melarikan diri.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya."
(QS. Ali 'Imran: 123)

Tugas Malaikat Jibril

Malaikat Jibril adalah Malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Malaikat Jibril merupakan penghulunya para Malaikat.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Katakanlah (Muhammad), "Barang siapa menjadi musuh Jibril maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman." (QS. Al-Baqarah: 97)

Dalam perspektif teologis, Jibril adalah sebagai penyambung pesan untuk mengantarkan sebuah pesan dari Allah swt berupa wahyu kepada para Nabi dan Rasul. Sebagaimana firman Allah swt

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Dan sungguh, (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, Yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan, (QS. Asy-Syu'ara': 192-194)

Di dalam ayat ini ada kalimat Al-Qur'an diturunkan ke dalam hati Muhammad ﷺ. Supaya tidak ada interfensi dari alat indrawi, oleh karena itu Nabi menyaksikan langsung Malaikat dan mendengar wahyu tanpa harus menggunakan panca indranya, karena wahyu itu bisa dilihat dengan mata dan didengar dengan telinga biasa. Maka orang-orang yang hadir ketika wahyu itu turun akan menyaksikan dan mendengarkan Malaikat Jibril. Padahal sebenarnya tidak demikian.

Jadi dalam konteks pewahyuan Al-Qur'an, peran dan posisi Jibril sangatlah vital. Jika di ibaratkan Malaikat Jibril posisinya sebagai pengantar pesannya Allah سبحانه وتعالى. Jibril memiliki peran vital terhadap sampai atau tidaknya sebuah pesan yang dikirimkannya.

Ada sebuah pertanyaan ketika sebuah pesan yang ditugaskan Allah سبحانه وتعالى telah selesai semunya dan telah sampai kepada Rasulullah, apakah tugas Malaikat Jibril sebagai pengantar pesan Allah سبحانه وتعالى telah selesai?

Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa saat era kenabian dan kerasulan berakhir maka saat itu pula Malaikat Jibril pensiun dari tugas sebagai pengantar pesan Allah سبحانه وتعالى.

Pendapat semacam ini adalah kekeliruan yang sangat besar. Para ulama sepakat untuk membantah pendapat semacam ini. Para ulama beranggapan bahwa meski pesan Allah سبحانه وتعالى atau wahyu telah sampai kepada Nabi dan Rasul, namun ada pesan-pesan lain yang harus dikirim oleh si pengantar pesan. Meskipun bentuk pesannya berbeda.

Dalam konteks inilah pesan-pesan yang lain itu kemudian disebut ilham. Malaikat Jibril mengirimkannya kepada orang yang dikehendaki Allah سبحانه وتعالى. Seperti kepada wali Allah yang sholeh. Maka munculah istilah orang itu mendapatkan karomah, maunah, dan sebagainya.

Pendapat inilah yang dianut sebagian besar dari kalangan ahli Sunnah Wal Jama'ah. Singkatnya selama kebaikan masih ada di muka bumi ini maka selama itu pula Jibril masih melakukan tugasnya dengan sangat baik. Ia kerap kali menyampaikan atau mengirimkan hal yang positif kepada umat manusia.

Malaikat Jibril sebenarnya sangat dekat dengan kita baik saat tidur ataupun tidak. Bahkan dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa Malaikat Rahmat tidak akan masuk ke rumah seseorang apabila ada patung yang biasa disembah dan anjing. Sedangkan yang dimaksud dengan Malaikat Rahmat adalah Malaikat Jibril.

Imam As Suyuthi dalam bukunya al hawi al fatawa dituliskan bahwa Malaikat Jibril masih tetap eksis turun ke bumi. Beliau memberikan sebuah alasan dengan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam At Thabrani dalam kitab Al Kadir dari Maemunah binti Sa'ad dia berkata

"Wahai Rasulullah bolehkan seseorang tidur dalam keadaan junub? Rasulullah ﷺ menjawab "Aku tidak suka jika orang junub tidur sebelum mengambil wudhu karena aku khawatir ketika ia mati dalam keadaan berhadas sehingga tidak dihadiri oleh Malaikat Jibril"

Menurut Imam As Suyuthi hadist ini tersirat bahwa Malaikat Jibril selalu turun ke bumi untuk menghadiri setiap orang mukmin yang mati dalam keadaan suci dari hadas.

Selaian itu Imam As Suyuthi memberikan alasan dengan membawakan sebuah hadist bahwa ketika Rasulullah menyebutkan ciri-ciri Dajjal beliau bersabda

"Lalu Dajjal melewati Makkah, lalu disana ia bertemu dengan makhluk yang sangat besar, maka dia bertaya "Siapa kamu?" makhluk tersebut menjawab "Aku adalah Mikail. Allah mengutusku untuk menjaga tanah haram ini" kemudian Dajjal meneruskan perjalanannya ke Madinah, di sana dia juga bertemu dengan mahkluk yang besar dan ia bertanya "Siapa kamu?" mahkluk itu menjawab "Aku adalah Jibril. Aku diutus Allah untuk menjaga tanah haram ini"

Menurut As Suyuthi hadist ini sangat jelas menerangkan bahwa sekalipun Nabi Muhammad telah wafat, Malaikat Jibril masih tetap turun ke bumi pada waktu-waktu tertentu untuk mengemban tugas dari Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 1-5)

Jangan pernah ada keraguan dalam hati kita sedikitpun dan jangan bertanya tentang bagaimana caranya para Malaikat itu turun ke bumi pada malam lailatul qadar. Cukuplah kita mengimaninya saja karena yang dapat diketahui oleh manusia tentang rahasia alam ini hanya sedikit. Sebagaimana yang dijelaskan Allah سبحانه وتعالى dalam firmannya

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, katakanlah, "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit." (QS. Al-Isra': 85)

Sir Rasyid Ridha dalam tafsirnya al manar dijelaskan bahwa Malaikat turun ke bumi dalam merangka memberikan kebaikan kepada Manusia. Artinya ketika seseotang itu mendapatkan malam lailatul qadr maka manusia akan selalu terdorong untuk melakukan kebaikan dan selama manusia ada yang mengerjakan kebaikan maka selama itu pula Malaikat Jibril akan selalu datang ke bumi untuk memberikan raat atas perintah Allah سبحانه وتعالى sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Dengan demikian tugas Malaikat Jibril pasca kenabian dan kerasulan Muhammad saw telah jelas, Malaikat Jibril masih tetap eksis turun ke bumi untuk menyampaikan pesan-pesan Allah سبحانه وتعالى dan Malaikat Jibril tidak pensiun dari tugasnya kecuali tugas menyampaikan wahyu kepada Nabi dan Rasul.

Post a Comment

0 Comments